NABI ADAM A.S TAK BERKISAH DARI TEORI EVOLUSI


NABI ADAM A.S TAK BERKISAH DARI TEORI EVOLUSI

Oleh :
Mochamad Ramdhan Pratama
Mahasiswa Sekolah Tinggi Hukum Bandung
mrp.ramdhan@gmail.com


Assalamualaikum Wr. Wb
Yang terhormat pembaca tulisan ini, Syukur saya panjatkan kepada Allah atas pemberian kesehatan kepada kita semua, shalawat dan salam selalu tersampaikan kepada Nabi Muhammad SAW, Keluarga, Sahabat, Tabiin, dan kita sebagai umatnya hingga akhir zaman nanti. Amin

Perkenalkan saya Mochamad Ramdhan Pratama sedang berkhidmat ilmu dan pengetahuan Hukum di Sekolah Tinggi Hukum Bandung, hari ini sangat yang bahagia  saya ingin menyampaikan suatu tulisan yang cukup menarik dibaca oleh KACA ( kawan pembaca ).
Refleksi awal yang saya ingin ceritakan dari seorang Ilmuwan yang bernama Charles Darwin, pasti kita sudah tahu siapa dia, atau belum tahu maka cari tahu ya! Hehe

Charles darwin itu seorang pemalu, beliau mempunyai kakek yang dijuluki ahli biologi spekulatif, nama kakeknya adalah Erasmus Darwin. (kebangetan jika tidak tahu). Jejak kakek Darwin menurun ke cucunya, mungkin dulu diberi stimulus tentang asal muasal makhluk hidup. Ayah darwin kesal karena charles lebih suka membaca, dan mengkoleksi organ hewan, maupun candu akan pengetahuan sejarah alam, padahal ayahnya susah payah memasukkan dia ke sekolah kedokteran. ( bisa dibayangkan sekelas darwin tidak melanjutkan di sekolah kedokteran, padahal mungkin mahal biayanya, hehe sama seperti sekarang).

Charles hidup dengan kecanduan pada pengetahuan tentang sejarah alam. Dia mengatakan bahwa semua bentuk tanaman dan binatang diturunkan dari bentuk yang telah ada sebelumnya yang lebih primitif, melalui evolusi biologi  dan evolusi merupakan hasil dari seleksi alam. Bahkan yang lebih mengejutkan Tuhan tersingkir dari gagasan penciptaan, penciptaan manusia disediakan oleh individu yang terus berkembang dalam spesies yang sama dan bertambahnya keturunan dalam jumlah yang besar sampai sedikit yang bertahan hidup.

Penelitian masa kini mebawa suatu refleksi bukti pertumbuhan gen mengalir dengan bebas, tidak seperti bayangan darwin dimana transformasi berjalan pada hukum seleksi alam. Kita bisa merasakan keberadaan Tuhan, karena jika kita mengikuti teori Darwin maka manusia mucul tak terlalu istimewa. maka dari itu kita akan pindah sedikit ke cerita Adam dan Hawa untuk menjadi komparatif dengan teori evolusi.

Refleksi awalnya adalah Tuhan tak berkisah dari teori evolusi dan proses seleksi alam, darwin mengatakan bahwa manusia keturunan kera, pengertian itu menurut saya sama saja seperti Iblis yang melakukan kejahatan yaitu tak mengakui Adam. Tapi darwin adalah manusia yang mempunyai kelebihan pengetahuan dan keingintahuan, Darwin sadar rasa keingin tahuannya dipicu oleh anugrah akal. ( padahal akal pemberian Tuhan hehe ).

Menurut hemat penulis kekuatan yang sejak awal membawa manusia posisinya di atas malaikat  yaitu kebebasan yang membuat manusia tidak hanya menuruni watak dan sifat nenek moyang terdahulu. Manusia itu memiliki kreativitas bahkan cahaya ilahi ada bersama manusia. Keunggulan itu membuat manusia berada dalam posisi terhormat, hingga kelebihan inilah yang membuat malaikat ogah menyembah manusia. Bahkan Quran menceritakan penciptaan nabi Adam yang sangat menawan.

Alkisah mula-mula Tuhan mengumumkan rencanaNya hendak menciptakan seorang khalifah. Lalu malaikat heran dan bertanya dengan nada menyimpan rasa sangsi. Malaikat tak pernah membantah, selalu memuji dan tunduk setiap perintah Tuhan. Tapi Tuhan tak hendak berdebat. Tuhan tak meminta pertimbangan. KehendakNya tak bisa dibantah. Dibutuhkan jawaban yang meyakinkan terhadap petunjuk keunggulan manusia agar malaikat tidak ragu atas ciptaanNya. (Baca QS. Al Baqarah: 31-32)

Tuhan akhirnya memaparkan bukti bahwa manusia tidak seremeh dan sekeji yang dikhawatirkan dan menyadarkan malaikat atas keterbatasannya. Malaikat kini paham tiap ciptaan punya keunggulan termasuk manusia. Dengan penuh hormat dan berserah diri atas kesalahan dan mengakui kelebihan manusia. Lagi-lagi Tuhan memberi bukti yang kuat mengenai kelebihan manusia. (Baca QS. Al Baqarah: 33)

Pengetahuan jadi power. Nampaknya yang patut menghuni bumi adalah manusia bukan malaikat. Karena manusia unggul dari pengetahuan dan punya kelebihan atas kehendak Tuhan. Dalam diri manusia kita bisa menemukan karakter konseptual yang membawa pada penguasaan pengetahuan maupun jaminan kebebasan. Dari konseptual itu manusia kelak mampu memiliki daya cipta dan kreasi yang luar biasa. Manusia itu harus selalu terkonek dengan Tuhan karena energi kreatif bersumberkan dari kehendak Tuhan. Dipihak lain iblis melakukan pembangkangan, merasa tidak percaya terhadap manusia dan merasa diremehkan posisinya. Salah satu faktor iblis enggan tunduk kepada manusia karena arogan dan merasa paling benar. (Baca QS. Al Baqarah: 34, QS. Al A’raf: 12, dan QS. Al Isra: 61)

Iblis itu aktor pembangkang yang mutlak. Terang-terangan menolak instruksi dengan dalih bahan penciptaan, maksudnya adalah iblis merasa lebih unggul karena melihat bentuk luar manusia dan tidak berusaha untuk memahami karunia Ilahi yang ditiupkan kedalamnya. Adam diciptakan oleh Tuhan sesuai dengan bentuknya, iblis tak peduli dengan citra kebaikan yang ada di dalam diri manusia. Maka dari itu, iblis menjadi musuh abadi manusia yang akan selalu membuktikan siapa sebenarnya manusia itu, karena iblis meyakini manusia tak lebih mau bersyukur dan ingkar. Bahkan iblis bersumpah akan menggoda manusia dari semua arah, depan, belakang, kiri, dan kanan. Dan hebatnya Tuhan tidak menghalangi, tetapi hanya memberi hukuman siapa saja yang ikut dengan iblis, output pengikut iblis ia masuk ke dalam api neraka. Dari kalimat di atas, kita bisa membayangkan betapa dramaticalnya adegan iblis yang melemparkan siasat agar mengikuti dan memiliki watak ganda, yaitu sombong dan yakin. Sombong karena materi penciptaannya lebih tinggi dan yakin kalau manusia akan mudah jatuh dalam siasatnya.

Iblis kontemporer memengaruhi manusia dari gejolak keimanan yang selalu berada dalam ketegangan. Karena manusia diberikan stimulus dalam pikirannya selalu terancam dari godaan setan atau memilih menjauh dariNya. Perjuangan menang atau kalah adalah pertimbangan manusia dalam mempertahankan kekuatannya. Jika manusia menang maka bonusnya adalah amal saleh dan jika manusia kalah maka Tuhan akan memastikan hukuman bagi yang mengikuti setan. Atribut negatif akan selalu melekat pada diri manusia, seperti sebuah belenggu yang sulit untuk lepas, karena iblis tahu kelemahan manusia yang dilukiskan dalam dominasi watak buruk.

Sifat busuk dalam diri manusia telah membuatnya terpelanting dalam godaan hingga mengikuti aliran kehendak iblis. Lalu, apakah ada defense dari manusia?. Hemat penulis, yang membuat manusia kuat akan bertahan adalah teguh akan kebenaran dan tidak tunduk terhadap godaan setan. Di sisi lain, kelebihan manusia adalah pengetahuan dan manusia menyimpan ruh Tuhan hingga mampu berdiri tegak serta memilih mana yang baik dan buruk. Kelebihan inilah yang membuat manusia mampu menaklukan semua godaan yang berbekal pada ruh Tuhan yang ditiupkan. Tapi tak selalu manusia memenangkan pertarungan, kita bisa lihat kekalahan manusia yang diabadikan dalam cerita tentang Adam, nama manusia pertama yang diberi anugerah dan kesempatan pertama menikmati taman firdaus.

Adam dan Hawa seperti sejoli yang bisa memilih rumah kediaman di taman firdaus, mereka saling mencintai, memiliki, dan tinggal dalam kerajaan Tuhan. Kenikmatan mereka hanya dibatasi oleh satu larangan, yaitu: jangan dekati pohon! Disini Tuhan mengajarkan tak ada kebebasan yang mutlak, edukasi selanjutnya sebuah kebebasan seharusnya diikuti oleh pembatasan. Demokrasi yang diajarkan, bukan pada kekuatan suara, tapi batasan untuk tidak terjatuh pada “Kezaliman”, tapi larangan menyimpan goda untuk diterjang. Adam dan Hawa seperti sosok yang dimabuk hasrat. Mereka tidak menginginkan adanya larangan sama sekali. Pohon larangan itu jadi dalih setan untuk menjebak keduanya.

Setan akan berbisik dengan lembut kepada Adam dan Hawa untuk berburuk sangka kepada Tuhan, maka kepercayaan terhadap Tuhan akan digugat dan dilucuti perlahan. “Jadi, maksud larangan Tuhan dianggap penuh motif. Adam dan Hawa tidak akan menjadi malaikat atau tinggal abadi di sana.” (Kata setan). Bujukan setan adalah senjata andalan untuk meruntuhkan Adam dan Hawa yang  mempunyai ego seorang manusia. Kini iblis merebut perhatian dan menaklukkan kemauan bajik manusia. Gema deklarasi setan menyala terang ingin melukiskan suatu kemenangan perbudakan di atas kemerdekaan, karena hasrat setan ingin mengubur semua ketentuan Tuhan dan membuat aak-anak Adam kebingungan dengan kitab suciNya. Akhirnya ajaran kebaikan hanya warisan yang tak bertenaga dan setiap ketentuan larangan akan ditafsirkan ulang menjadi perintah. Adam dan Hawa tergelincir dan salah menafsirkan perintah, lalu membangkang atas larangan dan berburuk sangka pada kehendak Tuhan.

Manusia dianugerahi kebebasan tindakan tapi tidak pada konsekuensi. Tuhan tidak akan berpaling dari ciptaanNya yang terjebak, kembali diingatkan dengan landasan sayang dan simpati. Tuhan memberitahukan asal muasal larangan dan diingankan kebali keberadaa setan sebagai musuh. Secara garis batas, manusia dan setan dari awal bermusuhan karena manusia mempunyai hasrat, maka pertarungan antara setan dan manusia akan memiliki makna. Jika dilihat dari prototype manusia pada umumnya gagal memahami perintah dan terjebak dalam ayunan godaan.

Dari konstruksi cerita di atas, Tuhan menjatuhkan keputusan bahwa Adam dn Hawa diusir dan ditakdirkan untuk mencebur dalam pergulatan. Kemapanan dan tanpa tantangan buka dunia manusia, dan terusirnya Adam adalah awal pertarungan abadi manusia melawan dirinya dan sesamanya. Dan Tuhan bertitah bahwa manusia akan saling bertarung diantara sesamanya. (QS Al Isra: 24-25)

Tuhan tak sekeji dewa Yunani yang menghukum manusia dengan kesia-siaan. Adam dan Hawa bukan Sisifus, jika Sisifus sangat tergoda dengan dunia maka Quran memandang secara berlawanan. Tentu Adam dan Hawa mengemban luka karena diusir. Tapi Tuhan bukan dewa Yunani. Pintu taubat dibuka jika manusia sadar kalau dunia bukan pusat segalanya. Bahkan dunia itu selalu dicurigai oleh kitab suci sebagai tempat yang bisa melupakan. Terlebih dunia diisi oleh “perhiasan, bermegah-megahan hingga berbangga diri tentang harta dan anak. Sebuah dunia yang konsumtif yang memberi panggung luas untuk akumulasi dan praktek diskriminasi. Padahal melalu “pengetahuan” yang diberikan oleh Tuhan semestinya manusia mampu terhindar dari godaan setan. Tetapi setan mengekor pada manusia yang ingin adanya kebebasan. Diasana manusia tidak hanya bertumpu pada etika dan pertimbangan pragmatis.

Hemat penulis Dosa itu seperti sebuah Paradoks. Andai ketika Adam waktu itu tak tergoda mungkin dunia manusia tak menemui kemajuan berarti. Hidup dalam keadaan nyaman karena kepatuhan pada perintah. Solusi dari semua itu adalah perisai takwa, takwa dalam turunan sikap, etika personal yang membuat anak cucu adam terlindungi. Maka tak ada lain usaha untuk melawan semua itu, semua dengan identitas Iman. Identitas itu yang membentuk kebiasaan, praktek hidup, dan bahkan ketika melakukan interaksi.       

Secara sederhana setan merupakan unsur permanen dalam kehidupan manusia yang menciptakan kehidupan yang semu bagi anak cucu adam. maka unsur pemberontakan merupakan unsur dialektis yang dapat memecahkan belenggu setan.  Kini waktunya anak cucu adam mengenal setan melalui perantaraan sifat-sifat umum: rakus, tamak, eksploitatif, menindas, hingga mau mnang sendiri. Tirani sikap itu yang membuat tatanan sosial tak pernah mencapai keseimbangan. Kita  harus yakin bahwa titah Tuhan itu benar, tetapi kebenarannya akan terasa jika itu menjadi praktek pembebasan.

Tidak ada komentar untuk "NABI ADAM A.S TAK BERKISAH DARI TEORI EVOLUSI"

loading...
Hosting Unlimited Indonesia
loading...

Berlangganan via Email