Rekayasa Persetujuan



Pemikiran Demokrasi Liberal dibuat oleh seseorang yang bernama Lippman. Pemikiran dia tentang demokrasi liberal, yaitu demokrasi akan berfungsi dengan baik ketika terdapat kelas masyarakat. hal ini dapat dipahami ketika terdapat kelas masyarakat yang memegang peran aktif dalam menjalankan hubungan-hubungan umum. misalnya kelas para ahli yang menganalisa, melaksanakan, mengambil keputusan dan menjalankan segala hal di bidang politik, ekonomi, dan sistem ideologi. apabila di kuantitatifkan jumlah kelas para ahli bisa dikatakan sedikit. 

Naluri intelektual kita harus berdialektika, apakah setuju dengan gagasan tersebut, yang secara otomatis menjadi bagian dari kelompok kecil tadi. lebih dari itu, terdapat kelas "pemirsa", yaitu orang-orang yang tidak termasuk kelompok kecil, melainkan populasi mayoritas (besar), dan harus berupaya untuk melindungi diri dari injakan dan raungan kelas "pemain"

Sinergi dengan hal di atas, maka dapat dijelaskan mengenai dua fungsi dalam demokrasi, yaitu kelas "pemain", yaitu para ahli, penguasa yang memegang peran eksekusi dalam pekerjaannya, merencanakan dan memahami kepentingan bersama dilaksanakan oleh mereka. kelas yang kedua adalah kelas "pemirsa", yaitu dalam pekerjaannya hanya melihat dan menunggu keputusan kelas "pemain", selain itu fungsi kelas "pemirsa" dalam alam demokrasi, kelas ini sekali-kali diijinkan untuk meminjamkan kekuatannya kepada salah satu anggota para ahli, kelas ini juga diijinkan untuk berikrar dengan kalimat "kami ingin anda menjadi pemimpin kami" atau "kami menginginkan anda menjadi pemimpin kami"

melihat hal tersebut di atas, tentu sangat wajar karena kita berada dalam animo demokrasi, bukan bangsa totalitarian. dengan kata lain disebut pemilu. namun setelah kita memberikan kekuatan kita kepada salah satu anggota kelas "pemain", maka setelah itu kita harus mundur dan kembali menjadi "pemirsa".

dibalik keadaan tersebut, terdapat naluri intelektual kita mengenai moral yang memaksa. Nilai moral itu adalah bahwa massa publik terlalu bodoh untuk memahami sesuatu. Jika "pemirsa" mencoba mengatur urusannya sendiri, maka hanya akan mendatangkan masalah. Jadi, sangat Immoral atau tidak pada tempatnya membiarkan para "pemirsa" mengelola urusannya sendiri. Analogi Sederhananya, seorang anak umur 3 tahun tidak boleh dibiarkan menyebrang jalan, kebebasan seperti itu tidak boleh diberikan pada anak umur 3 Tahun karena anak seusia itu tidak tahu bagaimana menggunakannya. dengan pemikiran serupa, maka "pemain" tidak boleh membiarkan kawanan "pemirsa" menjadi partisipan atau aktor. kawanan "pemirsa" hanya akan mendatangkan masalah.

Strategi kelas "pemain" untuk menjinakan kawanan "pemirsa" adalah revolusi baru dalam seni demokrasi, yaitu "Rekayasa Persetujuan." media, sekolah, dan budaya populer harus dicabangkan. Untuk kelas "pemain" alat-alat itu harus memberikan pemahaman realitas uang cukup, juga menanamkan kepercayaan yang sesuai. dan harus diingat, dibalik itu semua ada alasan yang tidak diungkap. alasannya cukup jelas bahwa ketika melayani orang-orang yang memiliki kekuatan nyata.orang-orang ini adalah si empunya masyarakat, mereka adalah kelompok kecil. Jika kelas para "pemain" dapat bertandang dan menawarkan, "saya dapat melayani kepentingan anda." maka jadilah mereka bagian dari kelompok eksekutif.

Dengan bergabungnya empu masyarakat, kepercayaan dan doktrin harus segera menyusul,disuntikan agar mereka mahir menggunakannya untuk melayani kepentingan kekuatan swasta, dan itu mutlak untuk mereka kuasai. Jika tidak, mereka belum diterima sebagai bagian dari kelas "para pemain." Mereka harus betul-betul memahami doktrin tentang kaidah dan kepentingan swasta dan BUMN yang nexus-nya, jika mereka mampu mencapainya, maka kelas "pemain" membuka pintu untuknya.

lalu para "pemirsa yang lain" mereka tidak perlu mendapatkan perlakuan istimewa, hanya cukup mengalihkan saja perhatiannya. Juga jaga agar mereka tidak berada dalam kesulitan. Pastikan mereka hanya menonton dan sekali-kali meminjamkan kekuatannya kepada pemimpin yang mereka pilih. 

Tidak ada komentar untuk "Rekayasa Persetujuan"

loading...
Hosting Unlimited Indonesia
loading...

Berlangganan via Email